Pages

Showing posts with label cerita tentang keluarga. Show all posts
Showing posts with label cerita tentang keluarga. Show all posts

Sunday, June 24, 2012

sikola

hari itu aku menjadi tamu.
hari yang sangat berarti bagiku. karenanya mamak membelikan aku seragam putih merah di toko kelontong Uda Sander kemarin pagi. lalu kucuci sampai tiga kali. supaya hari ini aku tampil rapi. mamak bilang seragam ini harus dijaga karena mamak hanya sanggup belikan satu saja. sebenarnya seragam ini agak kebesaran. celananya menjuntai sampai ke tumit, seragamnya berkibar bagai Sang Saka Merah Putih. jadi mamak ikat pinggangku dengan tali rafia biru yang dimintanya pula dari ibu-ibu di samping rumah. "harus muat sampai kelas 6 sd". itu kata mamak.

lalu aku berlari di tengah pagi. ditemani embun dan si tumang yang kakinya sudah kudisan sejak aku masih ngompol di celana. kalau lelah sebentar kami berjalan. tidak, aku dan tumang tak boleh istirahat, nanti kami terlambat. aku atau tumang tak punya jam yang dibilang orang bisa tunjukkan waktu. jadi kalau ayam kami sudah berkokok, mau tak mau aku harus lari kencang ke sekolah supaya tidak terlambat. sebenarnya bisa saja kalau aku mau naik truk perkebunan kelapa sawit yang suka lewat-lewat. toh cuma makan waktu setengah jam. tapi kata mamak panjat-panjat truk bisa bikin baju sobek.

akhirnya sampai juga di sekolah. si tumang lapar, aku apalagi. tapi apa daya mamak tak kasih uang, katanya sarapan dulu sebanyak-banyaknya dirumah baru boleh sekolah, tak ada jajan, pulang nanti saja makan lagi yang banyak. jadi aku dan tumang tadi pagi balas dendam sama mamak, kami makan itu nasi dari bakul mamak sampai 3 piring. ditambah sebiji ikan tenggiri yang didapat dari arisan minggu kemarin. kasihan sekali tumang, jadi aku suruh tumang pulang saja. dia cuma angguk-angguk lalu pergi pula. aku berlari kecil ke dalam tapi sendal jepitku tersangkut di antara batu-batu. kutarik-tarik sampai dia lepas juga.



"anak-anak kita kedatangan teman baru, ayo perkenalkan dirimu" begitu kata ibu guru sambil seret-seret aku sampai depan kelas. aku takut setengah mati, keringat bercucuran sampai bajuku basah kuyup. aku yakin setelah ini aku bisa-bisa dihabisi mamak, kalau seragamku ini basah, besok aku pakai apa. maka sekonyong-konyong bertambah deraslah peluhku. "tak usah takut. temen-temen barunya ga akan gigit kok." lalu aku mulai buka suara "namaku Nim, aku dari Talak Batu, Lumbapea, Tapanuli Selatan. tidak, tidak perlu repot-repot dicari, aku sudah beli peta indonesia kemarin di kios Uda Sander, lalu minta ditunjukkan dimana rumahku, tapi Uda bilang disitu tidak ada nama kampungku, jadi sepertinya itu jauh sekali dari kota sini."



Sabtu, 24 juni 2012
untukmu, Pak


Thursday, April 12, 2012

jarum pendek sudah di atas

"Ayo tidur jarum pendeknya sudah di atas" begitu katamu setiap malam tiba. Lalu aku hanya merajuk mencoba menawar "tunggu dulu sampai jarum panjangnya juga di atas" dengan mata terpaku pada televisi yang tak seberapa besarnya. kau pun mulai gusar. sejenak  kau menimbang. lalu dengan penuh kekhawatiran berkata "kalau tidak tidur sekarang besok pagi kamu pasti sakit" dengan tanpa keikhlasan kuhentakan kaki dan melangkah ke kamar dengan rasa kesal . "Besok kan bisa nonton lagi" katamu. tapi aku pura-pura tak mendengar.

"hei cuci dulu kakinya baru naik ke tempat tidur", tapi aku tak mau dengar, "jangan suruh bersihkan kuman, mereka teman-temanku". "dasar pemalas" katamu sambil mengambil lap basah dan menyeka kedua kakiku.


 "sudah sana tidur"

dengan langkah gontai aku beranjak ke kamar yang kubagi dengan kedua kakakku. tempat tidur itu bertingkat dua.

kadang aku tidur di atas kalo sedang sial. Di atas panas karena sangat dekat dengan lampu, aku tidak suka. Kontras sekali dengan kasur bawah yang remang redup lagi sejuk. tapi kali ini aku sedang beruntung karena kini giliranku tidur di bawah.aku dan kakak-kakak tak pernah langsung tidur. Biasanya kami ketawa ketiwi entah menertawakan apa atau sekedar saling menggoda satu sama lain. 


sesaat setelah mendengar tawa kecil kami, kau melangkah dengan langkah khasmu menuju kamar kami. ah derap langkahmu, kami tau persis itu pasti engkau. Lalu kami akan pura-pura menutup mata. Tau jelas kami tak tidur, kau berkata "saya hitung sampai tiga awas kalau belum tidur juga. Satu.. Dua.. Dua setengah.. Dua tiga perempat. Tiga. Bobok, bobok, sudah malam." 


selamat malam juga papa. Tidur erat-erat




12 april 23.59


Sunday, March 25, 2012

Minggu

hari ini anak-anak sekolah minggu memenuhi gereja. parkit-parkit mungil itu terbang kesana kemari riang gembira. seketika mata mereka tertuju pada piala-piala yang tingginya tak seberapa. ingin. mereka inginkan itu. siapa tau dengannya mama papa bisa bangga. 

mereka mulai nyanyi malu-malu sambil menggerakan jemari mereka 
"My Jesus in the family 
happy happy home
happy happy home
happy happy home"


aku jadi rindu ke gereja bersamamu, pa. duduk di sebelahmu dan mencium pipi kananmu. terasa janggut kasar yang tidak dicukur rapi-papa tak bisa cukur janggut, hanya sekedar menjentikkannya dengan koin seratusan berkali-kali dan baginya itu sudah cukup rapi.
tercium bau tembakau dari badanmu yang gemuk nan legam. karenanya mama selalu bawa pernen pelega tenggorokoan. terdengar suara papa yang sumbang dan memekakan telinga saat menyanyikan kidung pujian. penuh semangat juga nada yang kejar-kejaran. tidak ada yang protes. tidak boleh ada yang protes.

setelahnya kita jajan batagor bersama, papa tak pernah beli untuk diri sendiri. papa lebih suka mengambil bagian kami anak-anakmu. katamu makan punya orang lebih nikmat. atau kalau kami sedang berprilaku baik, kami dapat eskrim cone rasa cokelat. sebagai imbalannya kau minta bagian paling ujung, paling nikmat, paling tidak dingin-satu-satunya bagian yang bisa kau makan karena gigimu selalu linu saat kunyah panganan beku. kadang aku tak rela, tapi untuk papa apalah yang tidak. kalau kuberi, papa senang bukan main

pa, sekarang aku sedang gereja bersama mama dan gideon. kami duduk di bangku pojok kanan tepat di bawah AC. tempat paling kau tak suka, karena katamu disini dingin. 

selamat hari minggu papa


minggu 25 maret 2012
minggu ini panas sekali , duduk di bawah AC pun tak terasa dingin
jadi hari ini kau tak akan cerewet seperti biasa. maka duduklah di samping kami, papa

Thursday, February 2, 2012

untuk kaka pertama


Mendengar seorang kaka menempuh yudisiumnya adalah bukti nyata bahwa sesungguhnya segala ini akan berakhir juga. Dan rasanya ingin menangis bahagia saat tau bonusnya, bahwasanya dia lulus dengan kehormatan.

Puji Tuhan. Terpujilah Tuhan.

Selamat untuk kakak kami yang terkasih, Rani Pitta Omas, S.Ked. 
teruslah berjuang bersama Tuhan karena perjalanan masih panjang.

Bandung, 3 feb 2012
10.17 wib menunggu giliran bertemu dokter,
Duduk diantara sekumpulan ibu-ibu menor, aku pakai baju belang-belang seperti kue lapis

soto


Setelah 7 bulan hanya sekedar melewati tempat itu, akhirnya aku dan mama memberanikan diri untuk sekedar berkunjung.

Masih membekas dalam ingatanku betapa seringnya dulu kami kesana bersama papa. Setiap ada salah satu dari anggota keluarga kami berulang tahun, tidak ada yang minta perayaan di restoran mewah  ataupun hotel ternama. Kami selalu meminta untuk datang ke tenda mungil di tepi jalan itu.




Soto pak kumis namanya. Rasanya mungkin biasa saja, bahkan bagi sebagian orang soto jeroan seperti itu amat menjijikan. Tapi bagi kami, kami jatuh cinta pada makanan itu sejak kami masih jabang bayi. Lebih lama dari itu. Sejak papa dan mama mulai pacaran, dua puluh dua tahun lalu.

Soto pak kumis tidak hanya menyuguhkan kelezatan tetapi juga ingatan indah dalam setiap mangkuknya.  Tempat makan soto pak kumis selalu buka seetelah magrib dan biasanya ramai betul suasananya. Jadi jika kami tiba terlalu larut, pasti sudah kehabisan.
kami empat bersaudara selalu punya cara untuk kembali ke sana meski tak ada satupun di antara kami yang sedang berulang tahun. Kami tidak sarapan atau bahkan makan siang agar bisa melahapsoto dengan sepuasnya. Maka bagi kami, inilah “all you can eat” sesungguhnya. Lalu kami bilang sama papa kalau kami belum makan dari pagi. Selanjutnya kami bujuk saja papa agar membawa kami ke sana. Tepat seperti dugaan kami, papa selalu mudah dirayu. Papa mengiyakan dan lupa kadar kolesterol dan asam uratnya yang tinggi-dulu kami tidak tahu kalau papa menyimpan profil lipid yang di ambang batas. Papa tidak peduli dengan kesehatannya. Baginya yang terpenting adalah sukacita bersama keluarga. Makan malam bersama adalah hal mewah bagi kami. Kami jarang sekedar berkumpul untuk makan malam di rumah, jadi soto ini ya bisa dibilang adalah penyatu kami.

Kami selalu dan entah mengapa selalu saja beradu mulut sebelum tiba di tempat itu. Apa saja bisa menjadi bahan bertengkar, mulai dari hal mungil sampai paling raksasa.

Sesampainya disana kami berlomba untuk duduk dekat papa, karena papa yang paling pasrah kalau daging jatahnya diambil tangan-tangan mungil anak-anaknya yang terkasih. 

Papa selalu bilang “boleh pesan yang banyak asalkan harus habis” maka kalimat inilah yang menciptakan karakter kerakusan dalam diri kami. Tapi kerakusan yang bertanggung jawab. Jadi bukan masalah toh. 

Mama selalu bilang “lepas kancing celana kalau sudah kekenyangan” ini dia pembentuk perut-perut buncit kami yang sampai saat ini masih kami pelihara.

Detik detik terakhir ketika kami akan pulang, papa selalu pakai modus lupa dompet untuk mengelak dari kewajiban membayar mangkuk-mangkuk soto kami. Dan mama selalu manyun kalau disuruh bayar semuanya.

Lalu kami pulang dengan perut kenyang dan rasa puas seperti telah melahap jutaan mangkuk surga. Seringkali saat perjalanan pulang. Adik laki-lakiku terkentut-kentut karena kekenyangan. Secepat kilat dengan keadaan setengah tersedak kentut-sambil menahan nafas setahan-tahannya-kami membuka jendela mobil lalu menghina-dina si kecil
Sesampainya di rumah kami tidur pulas tidak peduli apa yang kami makan akan jadi lemak. Bahkan sampai pagi hari pun, rasa kenyang itu masih bertengger dalam perut kami.
Malam tadi aku datang lagi kesana bersaama mama. Semua masih sama; warna tenda pak kumis yang tetap biru, angin malam, pemusik jalanan dan penjualnya pun tetap sama. Hanya saja malam itu begitu sepi, bukan saja karena sudah larut malam tapi juga kami hanya berdua, dan tak ada papa.


malam itu kami memesan porsi kecil dan menghabiskannya cepat. Saat akan membayar, penjual soto dan beberapa pegawainya mulai bertanya “bapak mana?” aku hanya tersenyum menahan air mata. Tidak sanggup menjawab. Lalu mama bertanya “maunya ke mana?” suaranya parau. Si penjual kembali bertanya “loh emang kemana, bu?”

“bapak sudah meninggal”

Penjual itu nampak bingung harus bilang apa. Lalu dia berkata “maaf bu, saya gatau”
“sebenernya sih saya gamau cerita, tapi gapapa deh biar mas-mas ga pada nyariin aja” mama berikan senyum perih dengan suara lirih dan air mata tertahan. Setelah pamit pulang kami beranjak menuju mobil. Pulang ke rumah tanpa berkata apa-apa. Tanpa saling bertegur sapa. Tak ada kentut ataupun papa.


Cerita ini ditulis 7 bulan setelah kepergian papa, oktober 2010 di mobil mama
Diketik ulang: bandung, 3 februari 2012
10.07 wib di boromeus, menunggu panggilan bertemu dokter.
Aku urutan antrian ke-enam, syukurlah biasanya tiga puluh  lima